Panca Wali Krama Pura Samuantiga

Terima kasih dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah yang diberikan kepada kita semua. Semoga kita bisa menjalani kehidupan ini lebih baik dan lebih baik lagi di kemudian hari. Tak lupa juga terima kasih atas selesainya pengerjaan buku foto ini.
Pura Samuantiga berada di Bedulu, Gianyar-Bali. Dari buku dan brosur yang didapatkan di pura konon Pura Samuantiga berdiri berbarengan dengan Pura Tirta Empul sekitar 962 Masehi menurut Tatwa Siwa Purana. Lontar Kutara Kanda Dewa Purana Bangsul menyebutkan Pura Samuantiga sebagai tempat pertemuan tokoh-tokoh agama dan kepercayaan. Babad Pasek juga menyebutkan bahwa pada masa pemerintahan Gunapriya Dharmapatni dan Udayana diselenggarakan tokoh agama Siwa, Budha dan Baliaga.
Prihal Pura Samuantiga dalam lontar Tatwa Siwa Purana, Khususnya lembar 11 yang berkaitan dengan penyebutan Pura Samuantiga, antara lain disebutkan:
“... samalih sapamadeg idane prabu Candrasangka mangwangun pura saluwire: Penataran Sasih, Samuantiga, hilen-hilen rikala aci, nampyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran nglamuk beha, mapalengkungan siyat pajeng, pendet, hana bale pgat, pgat leteh”.
Artinya : “... dan lagi semasa pemerintahan beliau Prabu Candrasangka, membangun pura antara lain: Penataran Sasih, Samuantiga, tari-tarian di saat upacara, nampyog nganten, siyat sampian, sanghyang jaran menginjak bara, mapalengkungan perang payung, pendet dan ada bale pegat, menghapus kaletehan”.
Dalam setiap pelaksanaan Piodalan atau Mapadudusan yang dilaksanakan setiap setahun sekali, rangkaian pelaksaaannya sudah terpolakan sedemikian rupa. Diawali dengan Nyambut Karya dilaksanakan pada hari tilem atau 15 hari sebelum puncak upacara. Disaat Nyambut karya, ditandai dengan dimulainya membuat sarana upacara oleh para pangayah yaitu permas. Sendangkan para anak-anak mulai ngayah ngambeng sebagai simbolis Dewa, yaitu mencari sarana upacara dari rumah ke rumah sekaligus sebagai pemberitahuan tentang akan dilaksanakan karya
Dari seluruh uraian tersebut dapat disimpulkan bahwa Pura Samuantiga merupakan kahyangan jagat untuk memohon kesejahteraan sekaligus merupakan pura kawitan atau cikal bakal adanya desa pakraman di Bali. Untuk tidak melupakan sejarah dan asal muasal sudah sepatutnya bila setiap piodalan atau karya di khayangan tiga di desa pakraman agar nunas pakuluh di Pura Samuantiga.
Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku ini.
Foto dan tek oleh Nyoman Martawan


m book 25 - ngerit baturiti 2014



Baturiti Ngerit 2014

Pertama saya ucapkan puja dan puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa. Karena selalu diberikan berkah dan bisa selalu berkarya sampai saat ini.

Kali ini saya menampilkan foto-foto tentang upacara Ngerit yang ada di Desa Baturiti, Tabanan. Desa tempat tinggal saya, keluarga saya juga mengikuti prosesi ini karena memiliki sawa nenek saya yang telah
meninggal beberapa waktu lalu. Sekalian mendokumentasikan upacara-upacara yang ada. Tentunya tidak keseluruhan dapat saya dokumntasikan dengan foto.

Upacara Ngerit merupakan upacara ngaben bersama-sama (massal). Upacara kematian ini merupakan bagian dari Upacara Pitra Yadnya yang ada dalam umat Hindu Bali. Satu tempat dengan tempat lainya tentunya memiliki tradisi dan budaya berbeda dalah melaksanakan upacara ini. Tujuan masingmasing
adalah sama.

Ngaben memliki beberapa tujuan, banyak prosesi dilakukan saat upacara yang berlangsung kurang lebih satu bulan. Upacara yang dikatakan sebagai hutang seseorang kepada leluhur. Ada juga yang mengatakan
upacara ini adalah mengembalikan apa yang telah dipinjam semasa hidup, yaitu Panca Maha Buta. Pertiwi atau tanah, Apah atau air, T eja atau api, Bayu atau angin, Akasa atau Ether/ruang kosong. Mungkin secara
bodoh saya katakan adalah semua yang telah dipakai dalam kehidupan sang mendiang dikembalikan lagi dan atman bisa menyatu dengan Tuhan.

Semua dikembalikan dengan baik dan dilepaskan dari dunia ini. Dalam diri manusia terdiri dari dua unsur yaitu Jasmani dan Rohani. Menurut Agama Hindu manusia itu terdiri dari tiga lapis yaitu Raga Sarira, Suksma
Sarira, dan Antahkarana Sarira. Raga Sarira adalah badan kasar. Badan yang dilahirkan karena nafsu (ragha) antara ibu dan bapak. Suksma Sarira adalah badan astral, atau badan halus yang terdiri dari alam pikiran, perasaan, keinginan, dan nafsu (Cinta, Manah, Indriya dan Ahamkara). Antahkarana Sarira adalah
yang menyebabkan hidup atau Sanghyang Atma (Roh).


Raga sarira atau badan kasar manusia terdiri dari unsur panca mahabhuta yaitu pertiwi, apah, teja, bayu, dan akasa. Pertiwi merupakan unsur tanah yaitu bagian-bagian badan yang padat seperti daging. Apah meruakan unsur cair yaitu bagian-bagian badan yang cair seperti darah, kelenjar, keringat, air susu dan lainnya. Teja adalah api yaitu panas badan (suhu), emosi. Bayu merupakan angin yaitu nafas. Dan yang Akasa adalah ether, yakni unsur badan yang terhalus yang menjadikan rambut, kuku.

Hal yang menarik dilaksanakan dalam Ngerit ini adalah semua masyarakat desa bergotong-royong (ngayah) sehingga upacara bisa berjalan dengan baik dari awal sampai akhir. Rasa semangat wara yang dilaksanakan sepanjang hari dari pagi sampai pagi lagi. Saat malam basanya dilaksanakan hiburan seperti wayang, joged sebagai penyemangat begadang.

Kali ini ngerit dilaksanakan dalam dua bentuk. Ngelungah dan sawa wedhana, Ngelungah merupakan upacara kematian untuk anak yang belum tanggal gigi sedangkan Sawa Wedhana merupakan upacara ngaben jenazah yang telah dikubur .

Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku ini.
Foto dan tek oleh Nyoman Martawan

m book 24 - Karya Pura Dalem Lokaserana



Syukur kehadapan Tuhan atas anugerahNya bagi kita semua. Semoga semua memperoleh kesehatan dan kebahagiaan tentunya. Dan Agustus 2014 buku ini selesai.

Karya merupakan upacara Hindu Bali yang besar tidak setiap saat dilaksankan di pura. Dalam upacara yang rutin dilaksankan biasanya setiap enam bulan sekali (kalender Bali), biasa disebut dengan odalan di desa setempat. Karya biasanya dilaksanakan minimal dalam 30 tahun sekali, juga disesuaikan dengan  kelengkapan, dana dan segala sesuatu untuk melaksanakan upacara besar ini. Rentetan acara pun biasanya dilangsungkan kurang lebih selama sebulan.

Kali ini Desa Lokaserana, Siangan, Gianyar, Bali melaksanakan Karya di Pura Dalem Kadewatan yang puncak upacaranya dilaksanakan pada Buda Cemeng Merakih tanggal 9 Juli 2014. Rentetan upacara yang
tertera di jadwal dimulai 13 April 2014 yaitu Mapiuning dan Nanceb Rompok dan berakhir pada 20 Agustus 2014 yaitu Nugtug Bulan Pitung Rahina.

Antusias dan semangat warga desa untuk melaksanakan Karya sudah tampak dari dilaksanakan bebrbagai kegiatan jauhjauh hari sebelumnya. Ngayah, membuat upakara sudah dilaksanakan lebih dari dua bulan sebelumnya. Persiapan ini dilaksanakan agar nantinya Karya ini bisa berjalan lancar. Hal yang menarik dari upacara keagamaan di Pura Dalem Kadewatan adalah upacara ini baru pertama kali dilaksanakan. Beberapa orang tua, tokoh masyarakat yang sempat ditanyakan mereka belum pernah mengenal atau melaksanakan Karya di desa. Jadi hal ini sangat menarik, hal baru bagi warga desa.

Tidak semua rentetan upacara sempat saya saksikan dan foto, hanya beberapa saja. Beberapa hal menarik seperti Nyukat Genah (Pengukuran Tempat Upacara), Pakelem di Puncak Gunung Agung dan Danau Batur tidak sempat saya saksikan dan didokumentasikan dengan foto tentunya. Karya di Pura Dalem tentunya diisi dengan persiapan, Puncak Karya dan selanjutnya adalah Karya berakhir. Upacara ini dipimpin (Yajamana) oleh Ida Pedanda Wayahan Bun Griya Sanur Pejeng.

Awal Karya dilaksanakan persiapan seperti pembuatan sarana upakara, Nyukat Genah-Ngaryaning Rompok (Mengukurmembuat tempat upacara). Mendak Ida Betara Pangrajeg Karya di Penataran Pura
Besakih (Upacara Penjemputan), Nyengker Setra (Mengurung Kuburan). Mapepada (pembuatan isi-isi upakara), Tawur (upacara pembersihan), Padanan (berderma kepada warga luar desa), Mlasti ke Pantai Masceti (upacara pensucian), Mendak Bagia ke Griya Pejeng dan beberapa upacara lain. Untuk Karya dilanjutkan dengan Puncak Karya dengan berbagai kegiatan upacara. Beberapa hari selanjutnya  dilaksanakan upacara Nganyarin (persembahyangan), Ngider Dangsil (keliling desa). Nyenuk atau lebih dikenal oleh warga dengan nama Mabanjar-banjaran dan beberapa upacara penting lainnya.

Di akhir Karya dilaksanakan Rsi Bojana (terima kasih kepada semua sulinggih), Nuwek lan Mendem Bagia (Penanaman Bagia). Dan untuk acara lebih lengkapnya bisa dilihat di jadwal yang tertera di buku ini.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku ini.

m book 23 - tari-tari Bali anak-anak



tari-tari Bali anak-anak

Tak henti-hentinya saya panjatkan puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas semua anugerahNya selama ini. Semua yang pernah dan akan kita nikmati adalah berkat karuniaNya.

Perkenalan seni tari kepada anak-anak merupakan tujuan utama dari buku foto ini. Tari-tari Bali yang ditampilkan di sini hanya ada beberapa saja, tidak mencakup semuanya. Mungkin tari-tari yang lebih sering dipentaskan atau sering kita jumpai dalam pertunjukan-pertunjukan seni. Tidak ada ulasan secara mendetail dari masing-masing tari, hanya satu dua kalimat saja yang disampaikan dalam satu tarian. Lebih diharapkan anak-anak mengetahui tari-tari Bali dalam bentuk foto dengan sedikit keterangan tentang tari yang dimaksud.

Penari-penari yang ditampilkan di buku foto ini kebanyakan anak-anak, baik mereka yang baru masuk Taman Kanak-kanak (TK), Sekolah Dasar (SD) dan ada juga para remaja. Jika diperhatikan ternyata kebanyakan tari-tari Bali adalah putri sebagai penarinya dibandingkan dengan putra. Misalnya tari yang memerankan raja muda, keperkasaan raja hutan dan lainnya biasa ditarikan putri. Kemungkinan kalau seorang putri memiliki gerakan yang lebih luwes, lemah gemulai sehingga lebih gampang diatur dan menyesuaikan dengan segala tari. Anak-anak yang hebat, mereka selalu giat berlatih di sanggar tari maupun di sekolah mereka.

Foto-foto tari yang ada dalam buku ini dikumpulkan mulai dari tahun 2008 sampai dengan 2014. Semua foto dipotret saat mereka pentas baik saat upacara di pura atau pun ketika anak-anak sedang membawakan tarian di panggung. Tetapi kali ini foto-foto yang ditampilkan sebagian besar hanya menonjolkan penarinya saja untuk memudahkan fokus pengenalan tari.
Kesenangan dalam menyaksikan anak-anak yang sedang menari ternyata agak sedikit berbeda dengan orang yang sudah dewasa. Mereka biasanya lebih dalam tahap belajar, keberanian menggerakan badan di depan penonton merupakan pengujian mental yang tidak mudah dilakukan untuk anak-anak yang masih baru di dunia pertunjukan seni tari ini. Belum lagi untuk menghafal sebuah tarian atau pun mengenakan busana (pakaian) tari yang membuat mereka terkadang tidak nyaman. Dalam pertunjukan seni yang biasanya menampilkan beberapa tari membuat mereka untuk berhias jauh beberapa jam sebelum pementasan. Sungguh luar biasa semangatnya.

Memang yang paling menarik dari tari-tari Bali ini adalah busana yang dikenakan. Penari terlihat mencolok dari orang-orang di sekitarnya. Dengan pakaian yang dibuat khusus dengan berbagai hiasan yang menarik. Prada emas adalah warna yang lebih sering ditemukan dalam busana tari Bali.

Nampak ada dalam kain-kain, mahkota (gelungan) dan asesori seperti gelang, badong (kalung besar) maupun subeng (anting). Warna-warni busana juga terlihat cerah, dengan memadukan warna-warna kontras seperti merah, hijau, kuning dan biru.
Kalau diperhatikan tari-tari Bali juga lebih banyak terinsfirasi dari keindahan alam. Burung adalah salah satu contoh, keindahan bulu-bulu, tingkah laku dan juga merdu kicauanya. Kegiatan sehari-hari, pekerjaan, keindahan bunga bahkan sampai kisah cinta. Juga terlihat beberapa tari dengan nama yang mirip (sama) dengan beberapa tari yang ada di nusantara.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku ini.
Foto dan tek oleh Nyoman Martawan

m book 22 - Tari Rejang



Tari Rejang

Puji dan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah dan karuniaNya bagi kita semua. Semoga semua diberikan kebahagiaan.

Bali memiliki berbagai seni budaya dan seakan tidak akan ada habisnya untuk dibahas. Dari seni yang bersifat tradisi maupun moderen. Bermunculan seni baru dewasa ini kebanyakan mengacu pada seni-seni tradisi yang ada seperti seni suara, seni pertunjukan, seni tari dan seni-seni lainnya.
Berbagai tarian juga ada di pulau dewata ini. Tarian ini ada yang sakral (wali), untuk upacara (bebali) dan juga untuk hiburan (balih-balihan). Tarian ini ada yang sengaja diciptakan juga ada tarian alam, mereka bergerak secara tidak sadar dan gerak-geriknya mempertunjukan layaknya sebuah tarian. Salah satu tarian sakral yang diperuntukkan upacara adalah Tari Rejang.
Tari Rejang biasanya ditarikan saat ada upacara di pura atau tempat-tempat tertentu saat dilaksanakannya upacara keagamaan. Di masing-masing daerah biasanya memiliki tarian ini dengan busana yang unik dan dikhususkan saat hari suci saja.

Tari Rejang ini juga memiliki beraneka jenis dengan berbagai perbedaaan mulai dari gerak, busana dan masih banyak lagi. Tarian ini mungkin memiliki beberapa sebutan nama. Tari Rejang yang paling memasyarakat adalah Tari Rejang Dewa karena hampir dapat dijumpai diseluruh Bali. Gerak tarian ini lebih banyak jika dilihat dari jenis Rejang lainnya. Tari Rejang pada umumnya memiliki gerak yang sangat sederhana. Ada Rejang yang cuma menggerakan selendangnya sedangkan tubuhnya diam dan tidak berpindah. Begitu sederhana dan begitu terlihat sakralnya.

Dalam buku ini akan ditampilkan beberapa foto Rejang yang ada dibeberapa tempat di Bali. Dengan busana yang berbeda, sederhana dan juga agak rumit dalam penggunaannya. Ini adalah sebagian kecil dari Tari Rejang yang ada, masih banyak lagi yang masih belum terdapat di buku ini.
Tarian ini memang lebih bersifat sakral dibandingkan tarian lainnya. Terkadang ditarikan dalam keadaan tidak sadar. Mereka begitu lemah gemulai dalam menari dalam keadaan seperti itu. Mereka melakukannya sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas anugerahNya selama ini.

Konon sebelumnya juga ada buku-buku yang sudah dibuat mengenai Tari Rejang ini. Di internet juga banyak terdapat berbagai foto-foto yang memuat begitu banyak jenis tarian ini, mungkin mengulas lebih lengkap baik dari tulisan dan berbagai sudut bidik foto. Mulai dari bagaimana penari berhias, tata cara mengenakan busana dan tentunya mahkota (gelungan/kakompolan) dengan indahnya.

Buku ini tidak bisa begitu saja menjadi patokan pembenaran untuk berbagai jenis Tari Rejang yang ada. Karena berbagai informasi berbeda sering didapat. Semisal kita bertanya dari beberapa orang yang ada di tempat saat motret akan ada beberapa informasi yang mungkin berbeda. Tetapi itu bukan menjadi alasan kita untuk menyalahkan satu sama lainnya.

Saran dan masukannya sangat diharapkan untuk kemajuan buku ini. Maaf jika ada kesalahan yang tentu tidak disengaja. Terima kasih atas bantuan dan perhatian semuanya.

m book 21 - Perjalanan panjang kehidupan orang Bali



Perjalanan panjang
kehidupan orang Bali

Marilah kita panjatkan puji dan syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah dan karunianya bagi kita semua!

Dalam buku ini akan diceritakan perjalanan hidup orang Bali mulai dia kecil sampai orang akan kembali kepada Tuhan. Kehidupan dan kematian sangat sulit ditentukan, karena itu adalah rahasia Tuhan.

Kehidupan orang Bali memang identik dengan upacara, dari mereka kecil sampai dengan mereka mati. Mulai dari dalam kandungan ibunya pun dilaksanakan upacara agar nantinya anak bisa menjadi orang yang baik di dunia. Perjalanan dari masih bayi, menjadi anak-anak, remaja, tua dan akhirnya mati semuanya ada upacaranya. Karena mereka yakin hidup ini adalah sesuatu yang patut dihargai dan nantinya bisa memperoleh tujuan akhir yang mereka sebut dengan ‘moksa’.

Sebelum mereka mendapatkan moksa, kehidupan akan selalu berputar seperti lingkaran tanpa ujung.

Mereka akan lahir-hidup-mati-lahir kembali, sesuatu yang mereka sebut dengan ‘purnarbawa’ atau reinkarnasi. Kehidupan akan kembali diulang sesuai dengan perbuatannya sebelumnya. Jika dalam kehidupan mereka selalu buruk dan jahat makan mereka akan lahir kembali menjadi yang lebih buruk. Sebaliknya mereka yang selalu bijak dan selalu berbuat baik maka kehidupannya akan menjadi lebih baik. Di tingkat kebaikan paling tinggi maka mereka tidak akan lahir kembali, atma akan menyatu dengan Tuhan itulah moksa.

Kehidupan orang Bali sangat unik karena banyak sekali nilai yang terkandung di dalamnya. Mereka selalu menjaga hubungan baik kepada semua, kepada orang-orang sekitar, kepada lingkungan, kepada leluhur di alam sana dan juga Tuhan. Mereka selalu sayang dan hormat kepada semua, termasuk kepada anak yang dianggap para leluhur yang lahir kembali ke dunia. Semua dijaga dengan baik seingga dapat lestari dan dapat diwariskan hal-hal yang baik kepada penerusnya.

Hal ini tidak memadang status mereka, apakah mereka seorang pejabat, seorang yang miskin atau pun kaya. Kehidupan yang mereka inginkan adalah kebahagiaan. Mereka merasa berkewajiban untuk menjalankan dan memelihara adat dan budaya karena itulah mereka hidup di dunia ini.

Hanya beberapa foto dapat ditampilkan dalam buku ini. Tidak terlalu mendetail tetapi diharapkan bisa memberikan sedikit gambaran bagaimana kehidupan orang Bali. Beberapa tentang upacara dan juga keseharian kegiatan pekerjaan dilakukan.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang tentunya tidak disengaja. Saran dan masukannya tentunya diharapkan demi perbaikan dikemudian hari. Terima kasih atas semuanya dalam pembuatan buku ini.

m book 20 - kroping



Mengkroping Foto

Puji syukur kehadapan Tuhan Yang Maha Esa atas anugrahnya kepada kita semua.

Kali ini saya mencoba menampilkan foto-foto dengan nuansa yang di kroping. Kroping merupakan istilah dalam bidang fotografi dengan cara menggunting foto sehingga tidak menimbulkan kesan foto ditampilkan dengan posisi persegi atau bentuk kotak. Dalam berbagai keperluan kroping foto juga difungsikan untuk menghilangkan beberapa elemen foto yang serasa mengganggu dan untuk mempertegas apa yang mau ditampilkan. Pada zaman dulu sebelum digital berkembang seperti saat ini mengkroping foto digunakan dengan cara menggunting, merobek dan menggunakan beberapa alat seperti mesin plong. Membuat garis seleksi foto dengan menggunakan garis lubang jarum, paku atau pun dengan silet.

Zaman serba digital seperti sekarang hal itu begitu mudah dilakukan dengan menggunakan aplikasi-aplikasi yang ada di komputer. Aplikasi pengolahan foto yang begitu banyak beredar seperti salah satunya dengan
photoshop, corelpaint, InDesign dan banyak lagi aplikasi olah foto sekarang. Hanya dengan menggerakan mouse hasil seleksi bisa didapatkan dengan mudah. Lebih cepat dengan sentuhan, bisa juga memanfaatkan teknologi layar sentuh yang sudah mulai tersedia sekarang jika membeli komputer dengan spesifikasi terbaru.

Beberapa foto mulai saya lihat beda dan mungkin menarik ditampilkan dengan cara kroping ini. Karena kita bisa melihat foto dengan beda tidak selalu persegi selama ini. Tapi tetap yang dipentingkan dalam sebuah foto adalah kenangan, dokumentasi dan kepada siapa foto diperlihatkan. Penikmat foto akan selalu memberikan nilai kepada sebuah foto.

Dengan tidak berpanjang lagi marilah kita nikmati foto-foto dengan nuansa kroping dari beberapa tahun belakangan ini! Mohon maaf jika ada kesalahan yang tidak disengaja. Saran dan kritik selalu diharapkan demi perkembangan buku ini!



http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_20

m book 19 - malalai 9 magerosan




Fotomu ku teman

Terima kasih Tuhan atas semua anugrah dan karuniaMu pada hamba dan semua yang ada di dunia ini.

Melali 9 magerosan merupakan istilah utuk jalan-jalan dengan menikmati kuliner setempat, ya sambil ngisi memori kamera juga isi perut. Kali ini di edisi 19 pada September 2013 ini saya menampilkan foto temanteman tentang diri saya. Ternyata ini membuat kenangan perjalanan diri saya. Tidak semua foto dapat saya tampilkan di sini. Beberapa foto ini mewakili serangkaian perjalanan ini. Tentunya ucapan terima kasih kepada semua teman-teman yang tidak saya bisa ucapkan satu-satu. Semuanya foto foto kalian sangat berharga bagi saya dan memberikan kenangan yang tidak ternilai dari barang berharga lainnya. Sebelum saya mengumpulkan foto foto ini saya sudah meminta izin sebelumnya, melalaui jejaring sosial yang ada di data saya. Maaf tidak saya ‘inbox’ satu-satu saking banyaknya.

Foto-foto yang ada dimulai dari tahun-tahun sebelumnya sampai saat ini. Semua foto-foto kebanyakan berhubungan dengan dunia motretmemotret. Kebanyakan saat motret kegiatan budaya di Bali dan ada juga di luar dan hanya saya wakili dengan satu-dua foto saja.

Mungkin banyak terjadi kesalahan yang tentunya tidak disengaja dalam pembuatn buku digital ini. Mohon maaf dan masukan-masukan demi perbaikan di kemudian harinya. Dan mungkin beberapa dari teman belum mengetahui bahwa fotonya saya pakai di sini mohon maaf sebelumnya. Sekian dan terima kasih saya ucapkan kepada semuanya.





Sepesial terimakasih kepada :
Abi Artworks, Agus Wiryadhi Saidi, Anggara Mahendra, Ari Yudiana,
Bli Bhagus, Boby Lesmana, Cokie Maiden, Dewa Enggung Susila,
Dwi Sucipta Blackmajesty, Gesang Setya, GN Bao Zdewa,
Gusti Rendra, Haryadi Wijaya, IB Agung Santhyasa, Ismail Imli,
Nengah Januatha, Kadek Raharja, Komang Artha Susila,
Mang Rawit Erawan, Mario Blanco, Ngurah Gde Parwata, Ngurah Rai,
Nyoman Wesnawa, Pageh, PFB, Gusti Semarabawa, Gusti Suarsana,
Sudiantara, Tapaginarsa, Tjandra Niti Mandala, Tony Van Den Hout,
Uli Bali, Wayan Gunada, Widnyana Sudibya, Yande Ardana





http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_19

m book 18- Foto Putih Hitam



Foto Putih Hitam

Puji syukur saya ucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa karena atas anugrahNyalah bisa terwujudnya buku digital ini.

Sebuah foto terkadang sangat indah dan berkesan ketika kita lihat dengan warna putih hitam. Bali yang memang begitu kental dengan budayanya dengan cara apapun selalu akan indah untuk diabadikan. Karena
warga selalu menjaga budaya, alam dan sesamanya. Kebiasaan-kebiasaan yang diwariskan dan dijalankan turun-menurun yang sering disebut dengan kearifan lokal akan terasa di sini. Kemanapun Anda berkunjung di Bali akan merasakan aura yang beda, sangat damai dan memiliki kekuatan magis. Mulai dari orang, bangunan bahkan udaranya.

Mohon maaf jika ada kesalahan yang terjadi, masukan dan sarannya tentunya sangat diharapkan. Marilah kita nikmati beberapa foto yang ada di buku ini. Terima Kasih atas semuanya.


http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_18

m book 17 - gaya lukis



Bangkit Lagi

Terima kasih Tuhan atas semua karuniaMu kepada kita semua sehingga dapat menjalankan kehidupan ini sebagai mana layaknya. Tidak terasa sudah dari September 2010 terakhir membuat kupulan foto yang dirangkum dalam buku digital, sekarang mencoba bangkit kembali. Kali ini saya mencoba menampilkan foto-foto bernuansa Bali saya dalam bentuk berbeda. Dengan olahan sehingga tampak dengan beberapa goresan-goresan walaupun semuanya masih begitu mentah dan beberapa juga masih tampak menyerupai dengan foto aslinya. Semua ini terinspirasi dari lukisan-lukisan yang saya lihat di Bali dan juga beberapa teman yang melakukan tehnik menyerupai lukisan-lukisan tersebut. Beberapa foto mulai saya gores melalui tehnik digital, perlu sedikit gerakan gores sehingga bisa mengaburkan aslinya dan bahkan kekuatan mata yang selalu melihat warna yang berbeda.

Akhirnya di September 2013 ini memulai lagi, mari nikmati bebrapa foto yang sudah mengalami tehnik goresan-goresan sehingga memberikan kesan yang berbeda untuk kali ini.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_17

m book 16 - my journey



Latihan

Syukur kepada Tuahan atas apa yang telah tercipta di dunia ini sehingga kita bisa menikmatinya.

Latihan secara berkala merupakan cara yang paling jitu untuk memahirkan kita. Itupun yang terjadi dalam dunia fotografi, semakin sering kita melatih diri maka kita akan secara cepat dapat menentukan apa yang
akan kita rekam. Rekam dalam hal ini yaitu memilih subjek foto kita. Dari apa yang kita lihat kita bisa cerna dalam otak kita selanjutnya kita bisa rasakan apakah itu baik atau tidak. Rajin-rajinlah berlatih karena dapat
memberikan kita kecepatan dan hasil yang maksimal dalam karya foto kita.

Selamat menikmati galeri kali ini dan terima kasih atas semua batuannya sehingga buku galeri ini bisa selesai.


http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_16

m book 15 - Ngerit di Lokaserana



Ngerit di Lokaserana

Syukur kepada Tuahan karena kita diberi kehidupan di dunia ini dan kita bisa menikmatinya. Baik dalam keadaan senang maupu sedih.

Ngerit adalah acara ngaben yang diadakan secara bersama-sama. Ngerit ini bisa juga diartikan dengan ngirit (tidak boros). Ngerit yang dilaksanakan di Lokaserana, Gianyar ini dilaksanakan pada Juli 2010 yang pada sebelumnya berlangsung tahun 2005. Acara ini tentunya sangat panjang berkisar satu bulanan. Dari galeri foto yang di buku ini cuma ada dua hari saja yaitu saat pengangkatan mayat dari kuburan dan pembakaran.

Sekian dan terima kasih. Selamat menikmati.


http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_15

m book 14 - PKB XXXII


PKB XXXII

Syukur kepada Tuhan karena karuniaNyalah kita bisa menikmati hidup ini.

Pesta Kesenian Bali XXXII (PKB XXXII) yang berlangsung dari 12 Juni 2010 sampai 10 Juli 2010 adalah acara rutin yang diselenggarakan setiap tahun oleh Pemerintah Provinsi Bali. Kali ini mengusung tema “Sudamala” dalam artian mendalami kemurnian nurani. Bali Arts Festival nama keren PKB sebagai
proses penggalian, pelestarian, pembangunan dan Hiburan diselenggarakan di Taman Budaya (Art Center) Denpasar dan pawai pembukaan berlasung dari Lapangan Puputan Badung berparade menuju Taman Budaya.

Terima kasih atas semuanya, mari nikmati beberapa hasil bidikan kamera PKB XXXII ini, kali ini dari beberapa sudut berbeda.


http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_14

m book 13



Ide untuk Foto

Syukur kepada Tuhan atas karuinaNya.

Ide untuk menghasilkan foto yang sesuai dengan keinginan, tentunya memberikan kepuasan bagi kita sang pemotret. Begitu juga saat acara tertentu kita akan berpikir saat memencet tombol shutter dari kamera kita, sehingga foto yang kita hasilkan diharapkan tepat sesuai dengan yang ada di pikiran kita. Bila pun foto yang kita hasilkan tidak sesuai tentunya kita bisa mengulang kembali bila memungkinkan jadi kita akan lebih puas. Alhasil ide dengan hasil foto yang sesuai dengan keinginan akan memberikan nilai kepuasan bagi kita sang pemotret.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih dan selamat menikmati buku galeri ini.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_13

m book 12



Motret di Lapangan

Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena karuiaNya kita bisa ada di dunia ini untuk bisa menikmati hidup.

Sekilas tentang motret di lapangan, tentunya perlu persiapan yang matang. Selain mempersiapkan kelengkapan memotret tentunya pengetahuan tentang lokasi dan susunan acara sangat perlu diketahui. Dari
segi alat tentunya baterai harus penuh, memori harus kosong, dan lensa yang seperlunya harus dibawa. Dari segi pengetahuan lokasi dan susunan acara tentunya akan lebih memudahkan kita untuk melakukan pemotretan, dari mana enaknya kita motret pas momen tertentu sehingga kita mendapatkan hasil bidikan yang bagus dan tidak ketinggalan momen.

Dan pada akhirkata mari kita nikmati galeri berikut, dan terima kasih atas segalanya.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_12

m book 11



Cepat & Tepat

Syukur ke hadapan Tuhan karena atas karuniaNyalah buku galeri ini bisa terselesaikan.

“Cepat & Tepat” itulah yang sangat dipelukan ketika kita melakukan pemotretan suatu acara, yang tentunya momen yang sama tidak akan terulang kembali. Tentunya dalam keadaan begini kita tidak lagi memikirakan hitung-hitungan mengenai, berapa speed yang dikasi? bukaannya berapa?

Hal seperti ini harus sudah ada di luar kepala. Untunglah pada saat sekarang kamera-kamera sudah memiliki fasilitas memotret secara otomatis jadi bisa sangat membantu kita untuk salah satu pilihan tercepat dalam melakukan keputusan motret dalam momen yang harus dieksekusi dengan cepat dan tepat tentunya.

Akhirnya terima kasih atas segalanya, selamat menikmati.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_11

m book 10



Tuhan terima kasih atas karuniaMu, sehingga kehidupan ini dapat berjalan sebagaimana mestinya.

2010 jika diambil deretnya akan mendapatkan 20 10 “00”, jadi akan mendekati 00. Dalam dunia fotografi mungkin mengandung artian, dalam membentuk fotografi jangan terlalu dinilai dengan aturan-aturan yang mengikat tapi bagamana foto itu bisa dinikmati bagi para penikmatnya. Lebih banyak berkarya daripada menilai ataupun hanya belajar teori-teorinya saja melainkan lebih banyak praktek untuk menghasilkan karya.

Terima kasih atas bantuanya, semoga foto-foto ini bisa dinikmati.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_10

m book 9



Tahun Baru

Syukur kepada Tuhan atas segala karunianya.

Dalam bulan Desember ini tentunya banyak dari kita berpikiran tentang “Tahun Baru”. Kemungkinan banyak dari kita berpikiran hal yang sama, bagaimana kita menjalani tahun baru 2010 ini? Dalam seni fotografi tentunya tidak demikian, kita diharapkan untuk selalu bisa berpikiran dari sisi lain menemukan hal-hal yang baru, karena itulah kreativitas dan trobosan-trobosan yang tentunya akan memajukan fotografi itu sendiri.

Ketika ada yang mengatakan “ketika kita tahu tentang aturan-aturan dalam seni maka kita sendiri yang akan meninggalkannya”. Dalam artian seorang seniman diwajibkan tau tentang aturan seni dan akan menemukan seni baru tentunya, khususnya dalam fotografi ini sendiri.

Dalam buku ini memang tidak jauh dari buku-buku sebelumnya. Hampir sebagian besar merupakan foto pertunjukan seni. Karena dari pertunjukan seni ini pula kita bisa belajar bagaimana itu seni, terutama seni fotografi.

Terima kasih atas segala bantuanya sehingga buku ini bisa terbit. Dan selamat menikmati.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_9

m book 8



Payung

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadapan Tuhan. Payung (tedung) merupakan alat peneduh. Jika kita saksikan dalam setiap kegiatan keagamaan dan budaya yang ada di Bali ini tentunya kita akan selalu menemukan benda ini yang biasanya dipakai untuk perlengkapan upacara ataupun sebagai hiasan saja. Dalam galeri ini ditampilan juga beberapa koleksi foto payung yang ada.

Terima kasih atas segala sesuatu sehingga buku ini bisa teselesaikan.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_8

m book 7



Output

Pertama marilah kita panjatkan puji syukur kehadapan Tuhan.

Dari pengalaman yang sudah-sudah output atau tampilan sebuah foto akan terasa sangat berbeda sekali kalo kita tampilkan dengan cara berbeda maupun tempat berbeda. Sebagai contoh foto yang akan kita tampilkan di monitor komputer satu dengan yang lainya tentunya ada saja perbedaan warna yang dihasilkan, begitu juga tampilan ketika kita mencetaknya.

Mungkin saja kita mencetak dengan printer biasa, laser ataupun dengan mesin cetak foto yang lebih canggih.
Tentunya ini tidak usah menjadi acuan kita untuk berhenti berkarya untuk menghasilkan foto-foto bagus tentunya.

Terima kasih untuk semuanya sehingga buku ini bisa terselesaikan.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_7

m book 6 - melasti



Melasti

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena kita bisa menikmati kehidupan di dunia ini.

Edisi ke 6 kali ini saya akan menampilkan foto-foto dari acara melasti (mekiis) yang dilaksanakan serangkaian acara odalan di Pura Bale Agung, Baturiti pada tanggal 20 September 2009 ke Pura Batu Bolong yang berada di Canggu, Badung dan tanggal 21 September 2009 ke Pura Beratan yang berada di Beratan, Baturiti, Tabanan.

Melasti yang dilaksanakan ke Pura Batu Bolong berlangsung dalam suasana gerimis. Keberangkatan dari Pura Bale Agung berkisar jam 9.30, di sana juga sebelum acara dimulai juga sempat beberapa saat hujan dan akhirnya hujan berhenti kembali.

Melasti ke Pura Beratan juga dalam cuaca gerimis dan berangkat berkisaran jam 10.00, cuaca gerimis juga berlangsung selama upacara berlangsung tapi ini tentunya tidak menyurutkan semangat para pemedek.

Terima kasih atas semua pihak yang mendukung dalam buku edisi ini, dan pada akhirnya selamat menikmati foto-foto berikut ini.

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_6_1

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_6_2

m photo 5



Narsiz

Edisi 5 akhirnya selesai juga, terima kasih ya Tuhan. “Aku yang mana ya?”, “Ternyata aku....”, kalimat-kalimat seperti ini memang sering terlontar ketika kita melihat foto-foto kita, selalu saja mencari diri sendiri dan melihat gaya kita di dalam sebuah foto. Mungkin beginilah yang di sebut Narsiz. Banyak dari kita juga memperlihatkan gaya-gaya untuk difoto dan banyak juga dari kita merasa kaku ataupun kikuk saat di foto.

Apapun Ekspresi kita saat kita difoto akan membawa kenangan di masa depan. Ketika kita melihat foto-foto masa lalu kita mungkin akan merasa terharu, sedih maupun bahagia karena kita bisa merasakan berada di tempat itu saat kita melihat foto.

Mungkin saat saya menulis ini pun sudah mulai berpikir saat di foto. Haa.....”Kalo saya melihat foto ini 10 tahun mendatang bagaiman ya?” Jawaban yang harus saya tunggu sampai 10 tahun, saya tidak mau menunggu jawaban selama itu, biarlah jawabanya itu akan terjawab pada waktunya.

Terima kasih atas bantuan semua pihak yang membantu dalam pengerjaan buku ini, baik secara material dan sepiritual. Satu pesan saja dari saya “Mari kita jaga foto-foto kita untuk dikenang di massa depan”.

bisa dilihat juga:

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_5

m book 4



Rakyat Budaya

Tuhan telah memberikan kita sesuatu yang tentunya berharga bai kita, syukutr tentunya tidak henti-henti kita panjatkan kehadirat-Nya.

Terima kasih juga tentunya saya ucapkan kepada rakyat yang selalu menyelenggaraka kesenian-kesenian budaya yang begitu indah di mata saya. Memang seharusnyalah kita mempertahankan budaya yang kita miliki karena ini warisan leluhur yang paling berharga yang kita miliki sampai saat ini, budaya ini bisa dinikmati oleh siapa saja tidak perduli mereka kaya-miskin, tuamuda dan apapun perbedaanya. Jadilah kita Rakyat Budaya maupu Budaya

Rakyat yang saya berikan ancungan jempol, sampai kapan kita menikmati kebudayaan yang disuguhkan dalam bentuk seni, kita tunggu saja sampai kita sudah tidak menyenangi dan meninggalkan budaya itu sendiri.

Terima kasih atas bantun-bantuan baik secara morail maupun sepirituil selama ini yang saya dapatkan, kita nikmati RAKYAT BUDAYA ini.

bisa dilihat juga:

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_4

m book 3



Puji syukur saya panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas karunianya sehingga buku ini bisa terselesaikan.

Rasa sedih dan rasa gembira memang tidak bisa dipisahkan, Pesta yang di tunggu-tunggu akhirnya datang juga. Yup... Pesta Kesenian Bali XXXI yang berlangsung selama sebulan penuh ini dari tanggal 13 Juni sampai 11 Juli 2009 memang sangat memikat bagi para penikmatnya. Kesenian yang ditampilkan dari seluruh pelosok Bali, bahkan Indonesia dan Mancanegara yang sudah menjadi langganan di setiap pesta seni ini memang menjadi tontonan yang sangat menarik. Pagi, Siang, Sore dan malam selalu disuguhi dengan keseniankesenian dari beberapa duta yang ikut memeriahkan pesta seni ini. Tidak lepas
dari pertunjukan seni panggung yang diperagakan juga dipamerkan berbagai barang kesenian yang berlangsung di Taman Budaya atau lebih Populer dengan nama Art Center.

Dalam buku ini akan menampilkan beberapa hasil jepretan saya sendiri di Pesta Kesenian Bali XXXI ini. Tentunya tidak semua acara dapat saya abadikan dalam foto, sebab di pagi sampai sore saya bekerja sebagai layout (perwajahan) jadi waktunya memang cukup terbatas. Saya mencoba menampilkan secara
terbaik sesuai kemampuan yang saya miliki. Tentnunya saya masi harus banyak belajar lagi. Kritik dan saran sayaharapkan demi kemajuan saya di bidang pemotretan ini. Atas segal perhatianya saya ucapkan terima kasih dan selamat menikmati galeri foto berikut.

Bisa dilihat :

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_3

m book 2



Saya panjatkan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa karena buku edisi kedua ini bisa terselesaikan. Dari buku edisi yang pertama jaraknya memang sangat jauh untuk bisa ke edisi kedua ini karena foto yang saya miliki tidak mencukupi untuk menampilkanya dalam sebuah buku.

Tanah Lot Art Festival acara diselenggarakan di arel Tanah Lot, Tabanan. Acara ini menampilkan berbagai kesenian dari berbagai pelosok daerah yang ada di Kabupaten Tabanan. Acara-acara meliputi Parade 200 Gebogan, Barong Bangkung, Gong Kebyar Wanita, Festival Klepon dan banyak lagi. Acara ini berlangsung selama satu minggu dari tanggal 30 Mei sampai 7 Juni 2009.

Buku ini menampilkan galeri tentang acara Tanah Lot Art Festival yang diselenggarakan di seputaran objek wisata Tanah Lot, Tabanan. Tentunya tidak semua acara bisa tergambarkan dalam acara ini, disamping saya memilih foto terbaik saya (menurut saya sendiri) waktu saya untuk bisa mengabadikan acara ini memang cukup minim.

Sore hari setelah pulang dari kerja jam 4 sore saya mempersiapkan diri untuk berangkat ke Tanah Lot dari kosan saya di Denpasar. Berkisar jam 5 saya baru sampai di tempat acara, tentunya saya hanya bisa  menikmati acaranya dari jam itu sampai acaranya berakhir.

Satu pengalaman dan mungkin untuk menjadi pesan pribadi saya adalah selalulah menjaga barang yang Anda bawa, karena saya sempat kehilangan hp, biarpun harganya tidak mahal tapi itu menjadi pengalaman yang tidak mengenakan.

Terima kasih atas semua bantuanya sehingga buku ini bisa selesai, saran dan kritik selalu diharapkan demi kemajuan dan perkembangan buku ini.

bisa dilihat juga :

http://issuu.com/nyomanmartawan/docs/m-photo_2

m book 1

Entah dimana filenya :

Kalender Meja 2015 Cevron




Siap menemani di lepas pantai, Kalimantan

Kalender Meja 2015
Harga : 100.000 (2 biji)

Hubungi:
Nyoman Martawan
f : martawan
e : m.photo.produksi@gmail.com, martawan_bali@yahoo.com
t : 0819 360 23 593
_________________________________________________________

Salam hangat kawan,
Memperkenalkan lebih awal produk yang akan dipakai tahun 2015 mendatang.

Ayo teman siapkan fotomu,
dan bikin kaleder sesukamu (desain bebas).
Kan bisa dipakai selama setahun
Bisa untuk hadiah dengan mengisi foto keluarga, pacar dan sebagainya.
Tandai juga hari-hari sepesial untukmu.
Selain untuk pajangan keluarga, cocok juga untuk usaha.

Ukuran 1/2 folio (20 x 15 cm)
Isi 7, 8, 12 lembar (sesuai permintaan)
Bisa potrait atau landscape.

Harga hanya 100rb (7 llembar), 110rb (12 lembar) dapat 2 kalender.
Diskon 20% jika menampilkan keseluruhan foto BUDAYA BALI (kalau mau).
Order lebih banyak harga lebih murah.
Bayar lunas baru dicetak (untuk yang belum langganan/belum kenal)
Luar daerah + Ongkos kirim lewat TIKI

Barang selesai normal semingguan,
Itu kalau tidak ada penumpukan order (order banyak).

Hubungi:
Nyoman Martawan
f : martawan
e : m.photo.produksi@gmail.com, martawan_bali@yahoo.com
t : 0819 360 23 593

Juga menerima cetakan lain :
Majalah, Tabloid, Brosur, Buku, Nota dan lainnya.

Terima Kasih

Kalender Meja 2015 Wijayass Photo



Siap kirim ke Tabanan

Kalender Meja 2015
Harga : 110.000 (2 biji)

Hubungi:
Nyoman Martawan
f : martawan
e : m.photo.produksi@gmail.com, martawan_bali@yahoo.com
t : 0819 360 23 593
_________________________________________________________

Salam hangat kawan,
Memperkenalkan lebih awal produk yang akan dipakai tahun 2015 mendatang.

Ayo teman siapkan fotomu,
dan bikin kaleder sesukamu (desain bebas).
Kan bisa dipakai selama setahun
Bisa untuk hadiah dengan mengisi foto keluarga, pacar dan sebagainya.
Tandai juga hari-hari sepesial untukmu.
Selain untuk pajangan keluarga, cocok juga untuk usaha.

Ukuran 1/2 folio (20 x 15 cm)
Isi 7, 8, 12 lembar (sesuai permintaan)
Bisa potrait atau landscape.

Harga hanya 100rb (7 llembar), 110rb (12 lembar) dapat 2 kalender.
Diskon 20% jika menampilkan keseluruhan foto BUDAYA BALI (kalau mau).
Order lebih banyak harga lebih murah.
Bayar lunas baru dicetak (untuk yang belum langganan/belum kenal)
Luar daerah + Ongkos kirim lewat TIKI

Barang selesai normal semingguan,
Itu kalau tidak ada penumpukan order (order banyak).

Hubungi:
Nyoman Martawan
f : martawan
e : m.photo.produksi@gmail.com, martawan_bali@yahoo.com
t : 0819 360 23 593

Juga menerima cetakan lain :
Majalah, Tabloid, Brosur, Buku, Nota dan lainnya.

Terima Kasih